Antara Fakta & Khayal Tuanku Rao

RM48.00

In stock

“Dalam usahanya hendak membangkitkan kesan bahwa yang pahlawan-pahlawan sejati di masa perang Padri itu hanya Batak yang baru masuk Islam, sedang orang Minangkabau sendiri hanya suka duduk di rumah (TR, hal. 278), maka dikacaukannyalah sejarah yang teratur. Pengacauan itu sangat menyolok mata, dan karena tebalnya buku “Tuanku Rao” (691 halaman), banyaklah orang yang pengetahuannya tentang sejarah masih primery (masih dasar) yang tertipu lalu mempercayainya.”

Demikianlah salah satu penilaian Buya Hamka atas buku “Tuanku Rao” yang ditulis oleh Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan. Lewat buku Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao ini Hamka tidak saja mengkritik penuturan Parlindungan, tetapi juga menunjukkan fakta sejarah pembanding. Membaca buku ini, kita pun akan lebih mengetahui sejarah Islam di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat. Dan, pada saat yang sama kita juga bisa belajar dari Buya Hamka cara menanggapi sebuah karya yang dipandang banyak mengandung kekeliruan.

Compare
Categories: , ,

Tuanku Rao. Demikian ia dikenang. Sejarahnya melibatkan dua etnis besar Sumatra, Batak, dan Minangkabau. Ia diperdebatkan, seperti halnya perdebatan yang tak selesai tentang Perang Paderi (1803-1837). Ia diperdebatkan lantaran andilnya yang cukup besar dalam peristiwa itu, ketika rakyat Indonesia berusaha keluar dari jajahan Belanda, di Sumatra sendiri tengah terjadi perang saudara.

Perdebatan tersebut pernah begitu sengit terjadi antara dua tokoh karib yang menulis versi sejarah masing-masing. Mangaraja Onggang Parlindungan pada tahun 1964 dengan judul Tuanku Rao (Penerbit Tandjung Harapan). Dalam rentang waktu yang lama, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) melayangkan sanggahan-sanggahannya yang lalu dikumpulkan dalam satu buku utuh berjudul Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.

Terbit pertama kali pada 1974, karangan Buya Hamka mencoba memberikan data-data yang akurat seputar Tuanku Rao dan hubungannya dengan Perang Paderi. Berbeda dengan karangan Parlindungan yang hanya mengambil dari satu sumber (karangan kakek beliau keturunan Tuanku Lelo, salah satu tokoh dalam Perang Paderi), Buya Hamka memadukan sumber-sumber berbahasa Arab, Melayu dan Belanda.

Hamka menuturkan, pertama kali membaca buku Tuanku Rao kiriman muridnya Sofjan Tandjung semasa masih dalam penjara. Buku yang “tebal, istimewa dan menarik”  itu ditelaahnya dengan seksama. Lantas, setelah keluar dari penjara di tahun 1966, ia secara berkala menulis sanggahan-sanggahan terhadap buku tersebut di harian Haluan antara tahun 1969 dan 1970. Bersama beberapa tulisan lepas lainnya, begitulah Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao diterbitkan.

Be the first to review “Antara Fakta & Khayal Tuanku Rao”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Reviews

There are no reviews yet.

Main Menu