• Hujan Bulan Juni (Sepilihan Sajak)

    Hujan Bulan Juni pertama kali diterbitkan oleh Grasindo tahun 1994 dan telah dicetak ulang beberapa kali. Tidak ada perubahan penting dalam buku terbitan editum ini, kecuali penambahan dan penghapusan beberapa sajak berdasarkan pertimbangan praktis. Sajak-sajak dalam buku ini dipilih dari beberapa buku puisi yang pernah terbit sebelumnya, yakni duka-Mu abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983), ditambah dengan beberapa sajak yang tidak sempat masuk ke dalam buku-buku tersebut, yang ditulis tahun 1964-1994. Sajak-sajak yang tidak dimasukkan ke dalam bunga rampai ini diterbitkan waktunya bersamaan waktunya dengan judul Mata Jendela, yang pernah diterbitkan oleh IndoneSiatera tahun 2001, yang memuat sajak-sajak yang ditulis tauhn 1958-2001.

  • Peneka Silang Kata

    Semenjak kali terakhir T. Alias Taib menerbitkan buku puisinya pada 2004, tidak ada sesiapa sangka masih ada sajak-sajak yang tersembunyi, Peneka Silang Kata adalah projek pengumpulan sajak daripada arkib T. Alias Taib melalui usaha dan kerjasama ahli keluarga beliau. Ibarat mengisi huruf dalam kotak-kotak sebuah silang kata, buku ini membuka kembali memori seorang penyair tersohor, tetapi dari sudut emosi dan pengalaman hidup yang tidak pernah dibaca dalam buku-bukunya yang dahulu.

    Peneka Silang Kata merupakan sebuah kumpulan puisi yang memperkukuhkan lagi reputasi T. Alias Taib sebagai penyair dan pemburu kota yang tiada tolok bandingnya.

  • Perempuan Pengembara dan Sajak-sajak Perjalanan

    Penulis yang julung kali ditampilkan ini hadir dengan puisi-puisi lunak daripada pengalaman yang nyaman. Perjalanan juga adalah sebuah pencarian diri. Kembara seorang gadis membawa seribu impian.

    Penulis : NISSA’ YUSOF

  • Sepasang Sayap Di Bahu

    Sepasang sayap, memberikan sebuah makna yang besar. Ia menjadi simbolik perjuangan dan kuasa. Dengan sepasang sayap, manusia berjuang dalam gelap malam seperti seekor kunang-kunang. Dengan sepasang sayap juga, manusia terbang tinggi namun, kedudukan yang lebih tinggi sering membuatkan manusia terlupa bahawa asal-usulnya tetap dari tanah. Dengannya juga, pembaca akan dibawa kembara mengikut jejak penulis ke daerah perasaannya, merentas benua dan sempadan negara.

    Penulis : Muzaf Ahmad

Main Menu